Saturday, January 20, 2018

Dongeng Bapak KADES Baipajung


AG/KKN 60/Baipajung/2018.

Malam Semakin berkumandang. Bulan terhalang awan-awan yang bereratan. Di bawahnya terdapat segerombol. yakni Warga Baipajung. Waktu yang kulalaui telah tersenyum. Sekarang aku mengendarai motor bersama temanku. Dari Giras Kopi menuju Desa tempatku KKN. AKu di tugaskan untuk mengepos semua tulisan tentang Desa Baipajung oleh Kordes Baipajung. Sekarang aku menuju Warung tempat Segerombol warga yang sednag tersenyum bercanda gurau satu sama lain. Warung Kopi di timurnya jalan, di situlah tempat para warga Baipajung Ngopi. Termasuk pak Kepala Desa serta jajarannya berbincang-bincang asik tentang masa depan Desanya.

“Assalamualaikum.” Setelah ku jagak motor yang ku tunggangi aku menyapa mereka dengan salam penghormatan-serta salam keselamatan yang diyakini oleh warga Baipajung. Seperti biasa, segerombol warga itu berhenti berbincang, kemudian menjawab salam dariku.

“Waaliakumsalam Wr. Wb.”

“Gelenun pak.” Sambil bersalaman, aku kalimat untuk aku diterima bergabung dengan mereka. Tidak lupa temanku yakni yang bergonceng padaku juga mengikuti dari belakang.

“Dari mana lek” Tanya salah seorang warga dari kumpulan itu.
“Dari Giras pak. ngepos tulisan.” Jawabku, sambil memerhatikan wajah orang yang bertanya padaku. ternyata orang itu bapak kepala Desa Bai pajung. Ia duduk memisah dari Warga yag berhadap-hadapan di atas Lencak.

“Bagaimana, sudah kerasan selama empat hari di sini.” Tanyanya padaku.

“Alahamdulillah kerasan pak.” jawabku sambil tersenyum. Kemudiann semuanya diam seribu bahasa. Sedang temanku memesan 2 gelas kopi.

“Hmm. Bapak-bapak ini biasa ngopi di tempat ini ya?” tanyaku membuka pembicaran.

“Ia. warung ini sudah dijadikan tempt rutin ngumpul kami.” Jawab Pak SEKDES. Kemudian menyuruput kopinya.

“Oo. Ya ya.” Ucapanku adalah suara terahir di perbincangan itu. kemudian Semua orang biawa yang terteduh warung membisu seribu bahasa.

“Oh ia pak, saya tertarik dengan asal muasal dusun-dusun yang ada di Bai pajung pak. bagaimana, bolehkah bila kami mendengar ceritanya?” ucapku membuka pembicaraan kembali. semua orang yang berada di warung tertawa lepas. entah apa yang ditertawakan. Aku juga kurang faham, yang jelas bapak penjual warung juga ikut tertawa.

“Bagaiamana pak boleh tah jika saya tau ceritanya?” sambil tersenyum aku mencoba menanyakan kemabali.

“Ya ya ya.” Pak kepala Desa bersuara sambil mengangguk-nganggukkan kepala. Aku terdiam, akan tetapi sambil memerhatikan. Semua orang sama-sama memerhatikan bapak kepala Desa.

“Konon dahulu, di Desa Baipajung Bagian utara atau bisa disebut perbatasan atara Baipajung dengan Tanah merah bagian selatan. Ada sebuah dialog antara orang sengau dengan orang Tanah Merah Bagian selatan. Orang sengau itu asli penduduk Desa Baipajung.
Dialognyanya seperti ini



“Assalamualaikum.” Salam tamu dilempar ketika sampai di tempat orang sengau itu duduk.
“waalaikum salam. Ada yang bisa saya bantu?” jawab  orang sengau itu sambil mengajukan mencari tau maksud sapaan orang tanah mereh bagian selatan itu.
“Begini pak, kalau boleh tau, daerah ini namanya dusun apa ya pak?” tanya orang tanah merah bagian selatan itu.
“O, ya ya. Tempat ini namanya Rã’ Bãrã’.” Jawab orang sengau itu dengan ke sengauannya. Orang tanah merah itu bingung dengan kalimat si sengau tadi. sebab orang tanah merah mendengarnya bahwa tempat itu bernama Ru’ Buru’ bukan Rã’ Bãrã’.


       Dari cerita di ambillah nama dusun di desa BaiPajung bagian perbatasa antara tanah merah dengan Baipajung dengan  dengan nama dusun Ru’ Buru’. Hahahaha” setelah bercerita bapak kepala Desa tertawa lepas. begitu pula dengan orang-orang lainnya, juga tertawa lepas. secara tidak sengaja aku juga mengkuti tertawa lepas. begitu pula dengan temanku, mengikuti tertwa lepas.
“hmmm, ya ya ya pak. kalau yang Baidãjã?” sambil tertawa lepas aku bertanya pada bapak Klebun.

“kalau Baidãjã dan Bãilao’ itu di ambil dari tempat sambil robohnya pohon Baipajung itu. Baidãjã ternamakan karena terletak di utaranya pohon, sedangkan Bãilao’ terletak di selatannya pohon yang roboh itu le’.” Ucapnya masih tetap tertawa. akan tetapi tertawanya agak menurun. Kemudian dia melihat jam Tangannya. Sekitas 4 Menit kemudian dia berpamit pulang. Akann tetapi menuju kasir terlebih duhulu. Di warung itu tinggal aku dengan warga yang masih berbincang tentang Kolat. Nampaknya pagi akan segera dijemput oleh Matahari. Aku harus kembali ke Beskem, yakni kembali ke rumahnya pak SEKDES. Aku menuju ke kasir untuk membayar pesanan kami. Aku kaget, sebab bapak kepala desa sudah membayari 2 kopi yang kami pesan. aku menarik nafas sambil berjalan. Kemudian menuju warga untuk bersalaman untuk pulang.
 Sekian.

0 comments:

Post a Comment